TBNEWSPOLRESKUBURAYA.ID – Saat sebagian warga Kubu Raya merayakan kemerdekaan dengan mengibarkan Merah Putih, perjuangan lain berlangsung di lahan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tak ada panggung. Tak ada sorak-sorai yang terdengar hanya deru mesin pompa, semburan air, dan langkah para petugas yang menyusuri lahan untuk memastikan bara di bawah permukaan tanah benar-benar padam.
Tim Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD) Polres Kubu Raya, TNI bersama BNPB, Manggala Agni, pemadam kebakaran, relawan, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) berjibaku melakukan pemadaman sekaligus pendinginan di sejumlah lahan bekas karhutla.
Bagi mereka, api yang terlihat bukan satu-satunya ancaman
Justru bara yang tersisa dan tersembunyi di dalam tanah menjadi musuh yang harus diburu. Satu titik panas yang luput dapat kembali menyala ketika cuaca terik dan angin menguat, lalu membuka jalan bagi kebakaran baru.
Karena itu, pekerjaan belum selesai ketika kobaran api menghilang, lahan harus dipastikan benar-benar dingin.
Petugas menyisir titik-titik yang sebelumnya terbakar, menyemprotkan air ke area rawan, dan memastikan tidak ada lagi panas yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Di tengah peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, pekerjaan tersebut mungkin terlihat sederhana, namun dampaknya jauh lebih besar yang mereka jaga bukan sekadar sebidang lahan, melainkan udara yang dihirup masyarakat.
Mereka berupaya memastikan anak-anak tetap dapat belajar tanpa terganggu asap, rumah warga terhindar dari ancaman api yang merambat, serta lahan produktif dan aktivitas ekonomi tidak ikut lumpuh ketika karhutla meluas.
Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Api
Karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan, ketika asap menebal, kesehatan masyarakat ikut terancam. Ketika jarak pandang menurun, mobilitas warga terganggu. Ketika sekolah dan fasilitas publik berada di dekat titik kebakaran, keselamatan masyarakat ikut dipertaruhkan.
Dampaknya juga merembet ke sektor ekonomi, pedagang tetap harus membuka lapak, petani harus bekerja, pengemudi harus mencari nafkah dan pekerja harian tetap harus bergerak.
Semua membutuhkan satu hal yang kerap dianggap sederhana, lingkungan yang aman untuk hidup dan bekerja.
Karena itu, memadamkan api hanyalah satu bagian dari pekerjaan memastikan api tidak kembali menyala adalah bagian lain yang tak kalah penting bukan Sekadar Memadamkan Api
Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia sebelumnya menegaskan, penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak.
Seluruh unsur harus bergerak bersama untuk mencegah api berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
“Seluruh instansi terkait harus terus berkolaborasi, bersinergi, dan bekerja sama dalam menangani karhutla di wilayah Kabupaten Kubu Raya. Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan dan komitmen kita semua,” kata Rensa, Selasa (18/8/26).

Pesan itu kemudian menemukan bentuknya di lapangan
Polisi tidak bekerja sendirian, kolaborasi lintas instansi juga terlihat dalam penanganan karhutla di Kubu Raya sebelumnya. Tim KRYD Polres Kubu Raya, TNI bersama unsur BNPB dan BPBD turut melakukan pemadaman serta penyekatan untuk mencegah api merambat ke lahan lain dan mendekati permukiman warga.
Di lapangan, pekerjaan itu menuntut ketelitian
Petugas tidak hanya mengejar kobaran yang terlihat. Mereka harus memastikan titik-titik panas di lahan bekas terbakar benar-benar aman.
Sebab, karhutla di lahan gambut memiliki karakter berbeda. Api dapat menjalar di bawah permukaan dan kembali muncul ketika kondisi mendukung.
Itulah mengapa pendinginan menjadi tahapan penting setelah api berhasil dikendalikan.
Kemerdekaan yang Dirasakan di Rumah Warga, ada makna lain dari perjuangan tersebut. Kemerdekaan tidak selalu hadir dalam bentuk upacara dan pidato.
Kadang, kemerdekaan hadir dalam bentuk seorang petugas yang berdiri di tengah panas untuk memastikan api tidak mencapai rumah warga.
Kadang, ia hadir melalui air yang terus disemprotkan ke tanah agar bara tidak kembali menyala.
Kadang, kemerdekaan terasa ketika seorang anak tetap dapat pergi ke sekolah tanpa harus berhadapan dengan kepulan asap.
Dan kadang, kemerdekaan hadir ketika seorang kepala keluarga masih dapat berangkat bekerja karena lingkungan tempat tinggalnya aman.
Itulah sebabnya pendinginan lahan bekas karhutla tidak boleh dipandang sekadar sebagai pekerjaan setelah kebakaran.
Ia merupakan bagian dari upaya menyelamatkan kehidupan.

Setiap bara yang berhasil dipadamkan berarti satu kemungkinan bencana telah diputus
Setiap api yang berhasil dilokalisasi berarti satu permukiman, satu sekolah, satu lahan produktif, atau satu aktivitas ekonomi memiliki kesempatan untuk tetap berjalan.
Di hari ketika Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaannya, para petugas itu mungkin tidak berdiri di atas podium.
Mereka berdiri di atas tanah yang panas.
Mereka bekerja ketika sebagian orang merayakan.
Mereka memastikan api benar-benar mati, bukan sekadar terlihat padam.
Sebab bagi masyarakat, kemenangan bukan ketika kobaran api berhasil ditundukkan.
Kemenangan sesungguhnya adalah ketika esok pagi anak-anak masih bisa berangkat sekolah, warga tetap dapat bekerja, keluarga dapat menghirup udara dengan lebih aman, dan rumah-rumah tetap berdiri tanpa disentuh api.
Di situlah Merah Putih menemukan maknanya, bukan hanya sebagai bendera yang dikibarkan di halaman rumah, tetapi juga sebagai semangat untuk menjaga tanah, udara, dan kehidupan di dalamnya.
Penulis : cpt_ltr2002
Editor : Aiptu Ade
follow up : web resmi Polres Kubu Raya ( tbnewspolreskuburaya.id)
Call Centre : 110






