TBNEWSPOLRESKUBURAYA.ID – Guna mengikis sekat birokrasi dan membangun saluran komunikasi yang lebih progresif, Kepolisian Resor (Polres) Kubu Raya menggelar agenda diskusi santai bertajuk “Ngopi Bareng” bersama jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Organisasi Kepemudaan (OKP) se-Kabupaten Kubu Raya. Pertemuan penuh dialektika ini dilangsungkan di Hotel Harmony In, Jalan Sungai Raya Dalam No. 79, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
Kasatintelkam Polres Kubu Raya, IPTU Iman Kurniawan, S.H., menegaskan bahwa agenda ini tidak lepas dari komitmen Kapolres Kubu Raya AKBP Kadek Ary Mahardika untuk tetap menjaga dan mempererat tali silaturahmi yang selama ini telah terjalin erat dengan elemen mahasiswa dan pemuda. Melalui Kasubsie Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade, pihak kepolisian secara blak-blakan mengakui pentingnya kehadiran kaum intelektual dalam mengawal daerah.
“Dalam menjaga situasi Kamtibmas serta menyelesaikan berbagai sengkarut permasalahan yang ada di wilayah Kubu Raya, Polres Kubu Raya tidak dapat bekerja sendiri. Kami sadar betul, tanpa adanya dukungan serta pengawalan dari adik-adik mahasiswa dan mahasiswi sekalian, tugas ini tidak akan maksimal,” tegas Ade, Selasa (2/6/26).
Ade menambahkan, atmosfer informal yang sengaja dipilih dalam pertemuan ini diharapkan mampu mencairkan suasana.
“Kegiatan ini memang sengaja kami desain dalam situasi yang lebih santai dan tidak formal, dengan harapan besar muncul kedekatan emosional dan keterbukaan antara Polres Kubu Raya dengan adik-adik mahasiswa,” imbuhnya.
Turut hadir mendampingi dalam ruang diskusi tersebut, Kanit I Satintelkam Polres Kubu Raya, IPDA Dodik Yulianto. Sementara dari barisan intelektual muda, hadir 3 perwakilan BEM Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Barat, 3 perwakilan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Kubu Raya, 3 perwakilan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Kabupaten Kubu Raya, 2 perwakilan BEM Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKN) Kubu Raya, serta 2 perwakilan Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Kubu Raya.
Kawal Agenda Politik Desa, Mahasiswa Dituntut Jaga Netralitas
Selain mengukuhkan tali silaturahmi, Kanit I Satintelkam Polres Kubu Raya, IPDA Dodik Yulianto, langsung melemparkan pemantik diskusi terkait isu strategis lokal. Pihaknya mengimbau para mahasiswa untuk ikut ambil bagian dalam mengawasi stabilitas politik di tingkat akar rumput, khususnya menjelang agenda krusial di tingkat desa.
“Dalam waktu dekat ini, tepatnya pada bulan Juni, akan ada pelaksanaan Pergantian Antar Waktu (PAW) Kepala Desa di Kabupaten Kubu Raya. Saya berharap rekan-rekan mahasiswa dapat bersama-sama memantau dan mengawasi jalannya kegiatan tersebut,” ujar IPDA Dodik Yulianto.
Dodik mengingatkan, peran aktif mahasiswa sangat vital dalam mengelola dan menjaga kondusifitas Kamtibmas secara bersama-sama. Gayung bersambut, respons tegas datang dari perwakilan PMKRI Kubu Raya, Eipidius Ariwibowo. Ia menegaskan bahwa organisasi PMKRI Kubu Raya berkomitmen penuh untuk senantiasa menjunjung tinggi netralitas dalam pelaksanaan PAW Kepala Desa. Terlebih, mekanisme PAW memiliki karakteristik tersendiri karena bertumpu pada keputusan hasil musyawarah, bukan pemungutan suara biasa.

Jaring Aspirasi Kritis: Dari Masalah Balap Liar hingga Kelompok Tani Fiktif
Ruang diskusi seketika memanas ketika para aktivis mahasiswa mulai menyuarakan jeritan masyarakat bawah dan melayangkan kritik tajam terhadap situasi sosial-ekonomi di Kabupaten Kubu Raya.
Unggul, perwakilan dari Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Kubu Raya, di awal penyampaiannya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Polres Kubu Raya yang selama ini dinilai responsif membantu menyelesaikan hambatan serta permasalahan di tengah masyarakat. Kendati demikian, ia melempar catatan kritis yang cukup menyengat terkait infrastruktur jalan dan kenakalan remaja.
“Kami masih menemukan banyaknya aktivitas masyarakat yang nekat melawan arah di Jalan Arteri Supadio dan Jalan Angkasa Pura II. Ditambah lagi, minimnya penerangan di Jalan Adisucipto dan Arteri Supadio yang kerap memicu kecelakaan lalu lintas pada malam hari. Belum lagi aksi balap liar di Jalan Angkasa Pura II yang semakin meresahkan. Kami mendesak Polres Kubu Raya untuk rutin melaksanakan patroli malam dan penindakan tegas,” cetus Unggul, yang juga menaruh perhatian khusus pada ancaman laten paham radikalisme pada anak-anak di bawah umur.
Kritik tak kalah berani ditiupkan oleh para delegasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kabupaten Kubu Raya. Sahroni (HMI) membuka suaranya dengan meminta agar agenda diskusi semacam ini tidak berhenti di sini. Ia merekomendasikan agar pada pertemuan selanjutnya, Polres Kubu Raya turut menghadirkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubu Raya agar setiap keluhan masyarakat bisa langsung didengar dan dieksekusi oleh pembuat kebijakan.
Sahroni menyoroti carut-marut penyaluran pupuk bersubsidi yang dinilai tidak tepat sasaran. “Pupuk subsidi itu hak masyarakat yang berprofesi sebagai petani kecil, bukan untuk perusahaan perkebunan atau perusahaan pertanian besar,” cecarnya.
Hal tersebut dikupas lebih mendalam dan spesifik oleh rekan sejawatnya, Bagas Anjaya (HMI). Bagas membeberkan fakta miris yang terjadi di Desa Madu Sari, Kecamatan Sungai Raya. Akibat kurangnya perhatian terhadap petani lokal, banyak petani jagung di desa tersebut terpaksa beralih profesi yang berujung pada mangkraknya lahan-lahan produktif milik warga.
“Petani di Desa Madu Sari menjerit karena tidak mendapatkan alokasi pupuk subsidi. Setelah ditelusuri, tidak ada transparansi penyaluran dari pihak Kelompok Tani. Bahkan, diduga kuat masih terdapat Kelompok Tani bayangan alias fiktif yang bermain di lapangan,” bongkar Bagas dengan nada tegas.
Tak hanya sektor pertanian, kader HMI lainnya, Mahmudi, ikut menggedor perhatian publik terkait ketimpangan fasilitas pendidikan dan energi di daerah pelosok. Ia memaparkan masih banyaknya infrastruktur pendidikan yang rusak dan tidak layak pakai, serta potret buram masyarakat di beberapa daerah terpencil Kabupaten Kubu Raya yang hingga kini belum tersentuh akses listrik. Mahmudi menuntut adanya pemerataan pembangunan infrastruktur yang berkeadilan.
Jeritan Nelayan Kakap dan Sengkarut Arang Bakau Batu Ampar
Persoalan hajat hidup orang banyak kembali digulirkan oleh perwakilan PMKRI Kubu Raya, Sdr. Eipidius Ariwibowo. Ia membawa aspirasi krusial dari masyarakat pesisir, khususnya para nelayan di Kecamatan Sungai Kakap yang saat ini terancam kelumpuhan ekonomi akibat sulitnya mendapatkan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kapal mereka.
“Masalah BBM Nelayan di Sungai Kakap ini harus menjadi perhatian khusus dan butuh penyelesaian yang jelas. Kami berharap kepolisian ikut mengawal agar hambatan ini segera diselesaikan, sehingga roda ekonomi para nelayan kecil di sana bisa kembali bergerak,” kata Eipidius.
Eipidius juga menyoroti polemik aktivitas pengolahan arang bakau di Kecamatan Batu Ampar yang belakangan ini ramai menjadi obrolan hangat, baik di media sosial maupun di tengah masyarakat. PMKRI mendesak adanya solusi bijaksana yang tidak merugikan ekonomi masyarakat lokal, namun di sisi lain tetap mampu melindungi kelestarian ekosistem alam, khususnya hutan bakau di kawasan tersebut.
Pihak kepolisian memandang, ruang dialog terbuka seperti ini bernilai sangat strategis. Di satu sisi, silaturahmi dapat terjaga erat. Di sisi lain, komunikasi positif yang dibangun bersama BEM dan OKP menjadi wadah paling sehat dalam menyikapi setiap dinamika permasalahan maupun kebijakan pemerintah di wilayah Kabupaten Kubu Raya.
Polres Kubu Raya menyadari, tanpa adanya ruang diskusi yang transparan, penyampaian materi dan isu-isu sensitif di lapangan sangat rentan menimbulkan kesan negatif, memicu kontra, hingga memantik penggiringan opini negatif di kalangan akademisi. Lewat ajang “Ngopi Bareng” inilah, kepolisian memilih merangkul aliansi mahasiswa sebagai mitra strategis demi menjaga marwah, ketenteraman, dan kemajuan Kabupaten Kubu Raya.
Penulis : cpt_ltr2002
Editor : Aiptu Ade
follow up : web resmi Polres Kubu Raya ( tbnewspolreskuburaya.id)
Call Centre : 110

